Monday, October 27, 2008

INDONESIA MENGHADAPI KRISIS GLOBAL

Globalisasi bukan satu-satunya sistem hidup di dunia

Krisis ada di depan mata. Ekonomi AS dan seluruh dunia terpuruk. Harga-harga saham turun. Kurs rupiah menembus batas psikologis Rp. 10.000, - per dollar Amerika. Sementara itu presiden SBY terus menghimbau agar masyarakat tidak panik. Pemerintah selalu mengatakan bahwa fundamental ekonomi kita kuat, sehingga tidak akan terjadi krisis parah di Indonesia.

Apakah memang kita tidak perlu panik dengan krisis yang terjadi sekarang? Apakah benar fundamental ekonomi kita kuat? Apakah krisis ini akan berakibat sama dahsyatnya dengan krisis 1998?



Sebagai orang yang awam ekonomi, jawaban dari pertanyaan diatas akhirnya saya peroleh ketika menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh Institute Global Justice (IGJ) dengan tema Indonesia Menghadapi Krisis Global. Seminar yang berlangsung pada hari jumat, 24 Oktober 2008 di Hotel Sahid Jaya Jakarta menghadirkan beberapa pembicara. Mereka adalah para ekonom muda, pakar hubungan internasional, wartawan ekonomi dan praktisi.

Sebab krisis : sistem kapitalisme global

Krisis diawali ketika masyarakat dunia telah dipaksa melalui kampanye yang menyesatkan, yaitu dorongan mengkonsumsi (propincity to consume) sebagai strategi pertumbuhan ekonomi. Masyarakat dunia dipaksa hidup dalam hutang, kartu kredit, kredit perumahan bernilai rendah dan segala bentuk konsumerisme di luar batas kemampuan pendapatan yang diterima.

Di AS terjadi kredit macet di sektor perumahan murah (subprime mortgage). Suku bunga yang rendah menarik orang untuk kredit walaupun penghasilannya rendah. Lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit menggadaikan piutang perusahaan kepada lembaga pemberi pinjaman. Ketika kredit macet dengan jumlah yang sangat besar, lembaga kredit bangkrut dan mengalami kesulitan likuiditas. Hal ini memicu penurunan tingkat kepercayaan di pasar finansial, yang mengakibatkan jatuhnya nilai saham dan surat-surat berharga lainnya.

Pasar finansial merupakan sektor penting dalam sistem kapitalisme. Sistem ini menggunakan ideologi neoliberalime, dimana ekonomi menekankan pada kebebasan pasar, efisiensi ekonomi dan mengurangi intervensi pemerintah. Sektor finansial yang seharusnya hanyalah supporting bagi sektor riil, justru mendominasi. Proses akumulasi modal telah bergeser dari modal produktif menjadi perjudian spekulatif di pasar uang dan pasar modal. Tiga puluh tahun yang lalu transaksi valuta asing 90% terkait dengan sektor riil (perdagangan dan investasi jangka panjang), sekarang lebih dari 90% transaksi adalah aliran modal finansial jangka pendek (bahkan >80% kurang dari jangka seminggu) yang hanya diarahkan untuk spekulasi keuntungan (dikenal dengan hot money). Hal ini yang menyebabkan sistem kapitalisme global rentan krisis. Bila kepercayaan hilang (seperti kasus subprime mortgage) hot money akan ditarik dan pasar sajam berjatuhan. Krisis pun terjadi.

Krisis di Indonesia : 2008 = 1998 ???

Berikut adalah perbandingan krisis 2008 dengan 1998

1997-1998
Pemicu : Thailand
Hot money 5 tahun sebelum krisis : 14,8 Milyar USD
Utang luar negeri 54 Milyar USD

2008
Pemicu : AS
Hot money 5 tahun sebelum krisis : 24,5 Milyar USD
Utang luar negeri 88 Milyar USD

Krisis 1998 terjadi sangat parah karena diikuti dengan krisis politik. Sedangkan diluar politik, kondisi Indonesia saat ini tidak lebih baik dari tahun 1998. Di sektor finansial, indonesia mengalami peningkatan gelembung finansial (financial bubble) yang mengkhawatirkan. Hot money di pasar modal indonesia sangat besar. Aliran modal spekulatif ini telah mendorong harga saham gabungan yang tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks harga saham meningkat dramatis. Pada tahun 1997 naik sebesar 52%. Hot money memang dapat membuat angka indikator ekonomi menjadi kinclong. (Angka-angka ini bahkan digunakan untuk kampanye keberhasilan pemerintahan sekarang).

Selain nilai IHSG yang tinggi, cadangan devisa Indonesia juga meningkat drastis dari sekitar US$ 35 milliar pada tahun 2005 menjadi 57 miliar pada tahun 2007. Namun nilai ini lebih banyak disebabkan oleh kenaikan harga komoditas pertambangan dan perkebunan bukan karena peningkatan produktivitas dan daya saing ekspor.

Kenaikan nilai aset finansial yang tinggi justru memperlambat perkembangan sektor riil. Sebab, jika return sektor finansial jauh lebih tinggi dibandingkan return di sektor riil, pemilik modal akan cenderung melakukan investasi di sektor finansial dibandingkan di sektor riil.

Bagi Indonesia, akibat krisis ini mungkin akan mulai dirasakan tahun depan. Hal ini terjadi karena negara AS dan negara maju lain yang menjadi tujuan ekspor Indonesia ekonominya melemah dan mengurangi impor produk. Akibatnya ekspor Indonesia akan turun dan Indonesia mungkin akan menjadi sasaran produk Cina yang juga tidak masuk pasar AS. Hal ini akan menyebabkan sektor riil semakin tertekan. Ambruknya sektor rril jelas akan berpengaruh bagi masyarakat luas. Pengagguran dan kemiskinan akan meningkat secara masif.

Tindakan bijak
Ini adalah saat yang tepat bagi Indonesia untuk melakukan deregulasi di bidang ekonomi. Kini saatnya kita tidak lagi menjadi ”good boy” neoliberalisme. Tidak ikut sistem kapitalisme pasar bebas, bukan berarti menutup diri. Namun pemerintah perlu membuat aturan yang ketat terhadap segala bentuk kegiatan spekulasi di pasar bursa, pasar komoditas dan pasar mata uang. Selain itu perlu koreksi menyeluruh dalam sistem devisa, pemodal asing dan pemberian subsidi rakyat. Hendaknya sistem ekonomi dibuat demi kepentingan nasional dan kemakmuran rakyat.

Sumber : makalah seminar